MODUS OPERANDI


Pada kasus pegawai starbuck diatas, modus operandi yang dilakukan
dapat dijelaskan sebagai berikut:
1.    Mendapatkan nomor kartu kredit yang bisa dilakukan dengan cara melacak nomor kartu kredit melalui struk belanja para costumer. Didalam struck belanja costumer,hanya tertera 3 digit terakhir dari no kartu kredit.Namun jika carder memahmi struktur algoritma luhn, carder akan dengan mudah menebak nomor kartu kredit para costumer tersebut.Karena pada dasarnya, nomor kartu kredit kebanyakan menggunakan struktur algoritma luhn untuk sistem penomorannya.Struktur Algoritma ini digunakan untuk mempermudah komputer dalam membacanya.Dan yang lebih bparah lagi, sudah bukan menjad rahasia lagi jika para penyedia kartu kredit menggunakan struktur algoritma ini
 
2.   Hal yang kedua yang dilakukan adalah Mengunjungi situs-situs online yang banyak tersedia
      di internet seperti Ebay, Amazon untuk kemudian carder mencoba-coba nomor yang
      dimilikinya untuk mengetahui apakah kartu tersebut masih valid atau limitnya mencukupi.
      Dengan cara berbelanja online, carder tidak memerlukan kartu kredit secara fisik, carde
      hanya perlu menuliskan nomor kartu kreditnya.
3.   Kemudian carder Melakukan transaksi secara online untuk membeli barang seolah-olah carder adalah pemilik asli dari kartu tersebut.


4.      Menentukan alamat tujuan atau pengiriman, sebagaimana kita ketahui bahwa Indonesia dengan tingkat penetrasi pengguna internet di bawah 10 %, namun menurut survei AC Nielsen tahun 2001 menduduki peringkat keenam dunia dan keempat di Asia untuk sumber para pelaku kejahatan carding. Hingga akhirnya Indonesia di-blacklist oleh banyak situs-situs online sebagai negara tujuan pengiriman. Oleh karena itu, para carder asal Indonesia yang banyak tersebar di Jogja, Bali, Bandung dan Jakarta umumnya menggunakan alamat di Singapura atau Malaysia sebagai alamat antara dimana di negara tersebut mereka sudah mempunyai rekanan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar